Jumat, 16 April 2010

Silsilah/ asal usul kucing yang aq pelihara

Awal kisah

sejak usiaqu 10 tahun, aq sangat akrab dengan yang namanya kucing. awalnya tetanggaqu yg mw pindah rumah menghibahkan peliharaannya itu. lalu mulailah keluargaqu untuk merawat hewan lucu itu.

kucing jantan pertama diberi nama Pussy (ga kreatif yaa-maklum msi kecil), warna bulu"nya putih hitam. Kucing ini sudah terlatih untuk ramah, mengulurkan tangan kanannya(sprti mengajak salaman). Kerennya lagi, jika Pussy hitam ini qta tro di punggung blkng (dlm posisi tengkurap) dy akan "memijat" punggung dengan gerakan sprti menggaruk/mengasah kuku.
Bagian sedihnya, nasib kucing itu ga lama. saat lebaran, kami menginap di drmh nenek (msh di kota Jakarta) kami meninggalkan Pussy sendiri-dengan jatah makanan yang cukup untuk 2 malam.
Lebaran H+2, saat kembali krmh pussy udah ga ada. dugaan negatif dibuang sm tetangga karena ada yg ga suka sm kucing. entah gimana nasibnya si Pussy. semoga diterima disisi-Nya. amiin..


Kucing berikutnya hanya numpang melahirkan, kucing itu berwarna abu" belang putih, (klo melahirkan berarti betina yaa..). Segera setelah dibidani sm mama, kucing itu hanya sampai 2 minggu nitipin anak"nya, setelah itu pindah rumah. entah kemana juga?!? Sempet dksi nama juga sm aq, yaitu luna.

Kucing yang beneran menetap dirumah pada periode berikutnya adalah kucing jantan yang berwarna putih. Kalo ga salah dksi nama sama sprti yg pertama deh... (red. maap lupa)
Pussy putih sebenernya juga seramah Pussy hitam, klo dimandiin diem aja, ga berontak. klo belom dksi mkn tetep diem kalem. oh iya, awal kedatangan pussy putih ini agak sdkt unik. Ditemukan ditengah jalan, trus dbw pulang. untuk penyesuaian dirinya, membutuhkan waktu 4-5 hari. Waktu dksi makan ga mau dimakan-ga punya nafsu makan, disentuhpun enggak. (tanda" mw mati)
hari ketiga, dy menghilang dan qta sekeluarga udah nyangka Pussy putih bakal berumur pendek. ternyat dihari kelima, dy muncul dengan sehat wal'afiat.
kelebihan Pussy putih adalah bisa pulang sendiri kerumah setelah dibuang jauh dr rmh. lagi" kucing ini jadi korban manusia yang tidak memiliki prikehewanan. Yaa... bener, Pussy putih dibuang pd saat qta pergi lebaran ke rmah nenek.
ga tau dibuang kemana, pokoknya ga lama setelah itu, dy pulang lagi (inget jalan pulang rupanya...baguslah)
banyak kegokilan Pussy putih (pada jamannya) sayangnya aq udah lupa jadi ga bisa diceritain lagi deh,,



Ketentraman Pussy Putih terancam karena kehadiran tante Rere!!

Hihiihii... sesuai judulnya, kucing jantan putih itu punya tandingan kucing betina yang warna putih belang coklatpirang (beserta 2 ekor anaknya).

ceritanya berlanjut nanti yaa...

Rabu, 14 April 2010

Konferensi Perubahan Iklim Negara Muslim

Konferensi Perubahan Iklim Negara Muslim
Kamis, 8 April 2010 | 19:10 WIB

* Indonesia Salah Satu Penasihat Pembiayaan Perubahan Iklim

BOGOR, KOMPAS.com - Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta dijadwalkan membuka Konferensi Perubahan Iklim Negara Muslim, Jumat (9/4/2010) sekitar pukul 09.00. Konferensi yang dihadiri sekitar 150 orang dari 16 negara peserta berlangsung di IPB International Convention Center di kompleks Botani Square Mall Bogor.

Dalam siaran pers yang dikeluarkan Humas Pemko Bogor, Kamis (8/4/2010), disebutkan Menteri LH selain membuka juga memberi sambutan dalam konferensi tersebut. Pejabat lain yang memberi sambutan lainnya adalah Wali Kota Bogor Diani Budiarto dan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Dari pihak luar ngeri, yang memberi sambutan adalah Muhammad Hassan Awad dari Liga Universitas Islam, Kairo, Mesir.

Sekitar 150 perserta itu, 45 diantaranya adalah perwakilan dari pemerintahan kota di Indonesia, yang kotanya menjadi anggota Internasional Councils for Local Environmental Initiative (ICLEI), Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), dan CITYNET.

Pembicara ahli dalam konferesi tersebut antara lain Sead Elgezawi dari World Islamic Call Society, Tripoli, Libya (peneliti efek biologis terhadap pembuangan material organik dari limbah cair bahan bakar sintetis), Fazlun Khalid, pendiri Islamic Foundation for Ecology and Environmental Sciences (IFEES), Birmingham, Inggris, Emil Salim dari Dewan Pertimbangan Presiden RI.

Tiga agenda penting akan dibahas dalam konferensi tersebut. Yakni, masalah perubahan iklim dan aksi yang bisa dilakukan oleh umat Islam se-dunia, pembentukan Asosiasi Masyarakat Muslim untuk Aksi Perubahan Iklim (Muslim Association for Climate Change Action/MACCA), serta deklarasi empat kota menjadi kota hijau lestari (Green City). MACCA kedepannya diharapkan menjadi organisasi payung yang memandu kegiatan dan mengimplementasikan rencana aksi tujuh tahun berkaitan dengan perubahan iklim.

Jumat, 09 April 2010

DAUR ULANG KERTAS KIR SMUN 34 JAKARTA

Definisi "DAUR ULANG KERTAS"

Yaitu proses memisahkan serat-serat kertas menjadi serat benang kemudian diproses menjadi kertas lagi.

Tujuan daur ulang kertas :
-mengurangi limbah sampah kertas
-memproses kertas-kertas bekas menjadi barang hias yang siap pakai


Proses Daur Ulang Kertas
Alat
1. Papan kayu (ukuran sesuai kebutuhan) atau triplek
2. Kain tipis (kain hero/kain blacu/kain mori)
3. Screen dengan kerapatan 36 atau 38 (sesuaikan dengan kebutuhan)
4. Rakel (alat penekan untuk meniriskan air pada cetak saring / screen agar bubur kertas dapat menempel pada papan yang dilapisi kain)
5. Blender (untuk menghomogenkan jenis-jenis serat kain pada kertas)
6. Bak besar
7. Ember
8. Gunting/ cutter untuk memotong kertas & karakteristik


Bahan
1. Kertas yang sewarna dan sejenis, kecuali kertas majalah (kertas koran bisa digunakan setelah diolah)
2. Air
3. Lem (jika diperlukan) digunakan untuk mengumpulkan kembali serat-serat dan membuat kertas lebih tebal dan kuat.
4. Karakteristik -> pembentuk corak / tekstur pada permukaan kertas daur ulang. Dapat berupa daun, bunga, pelepah pisang, atau akar-akaran
5. Pewarna
a. alami -> kunyit, temulawak, bit, daun pepaya, daun suji, kembang teleng, kulit manggis, ampas kopi
b. buatan ->pewarna makanan, pewarna tekstil
6. Pemutih (digunakan untuk memutihkan kertas daur ulang, membersihkan noda-noda hitam tinta pada kertas)


Langkah-langkah pembuatan:

1. Siapkan robekan kertas yang direndam terlebih dahulu (waktu perendaman ±24 jam, jika tidak sempat, minimal 5 jam namun akan lebih baik jika lebih lama), dengan tujuan untuk membusukkan kertas agar kembali ke serat-seratnya.
Untuk kertas koran sebaiknya direbus/ direndam air panas selama 3 hari 3 malam agar noda hitam pada kertas koran hilang.
2. Siapkan papan yang telah dilapisi kain.
3. Hancurkan/ blender (perbandingan kertas dan airnya 1:3) hingga halus dan hasilnya menyerupai bubur kertas (pulp). Ulangi memblender 2-3 kali agar lebih halus.
4. Masukkan hasil bubur kertas tersebut ke dalam bak yang telah diisi air ± ¼ volume bak.
5. Ulangi langkah 3 dan 4 hingga perbandingan pulp dan bak dirasa cukup.
6. Blender karakteristik ataupun pewarna alami sesuai keinginan dengan dicampur sedikit air. Kemudian masukkan ke dalam bak dan aduk hingga merata.
7. Blender ±½ sendok teh lem dan air (jika diperlukan) kemudian masukkan dalam bak dan aduk hingga rata.
8. Berdirikan papan yang telah dilapisi kain dengan kemiringan ± 45⁰, kemudian basahi papan dengan air.
9. Masukkan screen ke dalam bak, sambil diayak kertasnya kemudian pulp disaring dan dicetak hingga rata ke bagian atas screen.
10. Tempelkan screen pada papan yang telah dibasahi. Gunakan rakel untuk meniriskan air pada screen agar kertas dapat menempel pada papan. Jika air sudah tidak menetes, lepaskan screen dengan kedua tangan secara serempak.
11. Ulangi langkah 9 dan 10 hingga pulp habis.
12. Jemur papan ditempat panas terik matahari ±1 jam, jika dengan suhu ruangan ±1 hari.
13. Setelah kering, cabut kertas dengan perlahan.



KIR SMAN 34 Jakarta
2010


NB;
buat non KIR
Selamat mencoba

buat alumni KIR 34,
yang mana karakteristik favoritmu???
ditunggu kehadirannya kembali di GRIYA KIR..
Qta DU bareng yuukk
ditunggu yaaaa
CU

kharisma ayuningtyas
KIR SMUN 34 angkatan XXI

Rabu, 07 April 2010

when it's coming true

When it’s Coming True...???
“Melihat tawa mu
Mendengar senandung mu
Terlihat jelas di mata ku
Warna warna indah mu
Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki..
Sifatmu kan slalu redakan ambisiku
Tepikan khilafku dari bunga yang layu
Saat kau di sisiku kembali dunia teriak
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki..” (Sheila On 7)

Dari sebuah kenangan masa lalu yang sangat indah.
Na, tokoh utama dari cerita ini, berharap kenangan itu akan selalu manis terasa seperti saat menjalaninya dulu.


Safina Oceaniz– biasa dipanggil Na, bukan seorang artis, bukan seorang gadis yang rajin, dan juga bukan seorang gadis yang telaten. Kesehariannya, Na cenderung merupakan gadis ceroboh, lelet dan bukan tipe gadis yang suka memperhatikan penampilannya. Padahal menurut pendapat teman-temannya, dia memiliki senyuman yang sangat manis dan suka menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan darinya.
Na memiliki sahabat yang telah dianggapnya sebagai soulmate-nya dan sering dipanggil dengan sapaan “mamet”. Seorang gadis yang mempunyai prinsip dan pemikiran yang lebih dewasa daripada Na. Segala tindakannya yang menyangkut masa depan harus dipikirkan mulai dari A sampai Z. Benar-benar seorang pemikir, lain dengan Na yang lebih cenderung bertindak dengan spontan. Na sering memanggilnya Syl, lengkapnya Sylvia Anindita.
Ada pula Gendis, seorang gadis yang sedikit ndeso, karena berasal dari luar Jakarta. Biasa disapa Didi, Na sering mengambil posisi di ruang kuliah tepat disampingnya. Walaupun ndeso, Didi tetap lucu dan menyenangkan. Ciri khasnya adalah kawat gigi (behel) dan logat bicaranya yang masih terbawa dari daerah Purworejo, Jawa Tengah.
Kisah Na dan perjalanan hidup bersama Syl dan sahabat lainnya serta soulmatenya akan dimulai dari hari pertamanya berada di kampus.


Angin sepoi-sepoi menemani Na dalam perjalanannya memasuki area kampus hijau itu. Walaupun sepanjang jalan dipenuhi kerindangan pepohonan namun keramaian suasana penerimaan mahasiswa baru membuat Na merasa deg-degan – agak sedikit panik karena kali ini Na mengembalikan fomulir tanpa ditemani mama.
Pada hari sebelumnya, Na bersama mamanya telah berada di kampus tersebut dan sempat berkeliling melihat tata letak kampus. Dari gerbang depan, terdapat sebuah bank untuk mempermudah mahasiswa menyetorkan uang kuliah. Dibelakangnya ada gedung besar yang dinamakan Daksinapati. Didepannya terdapat gedung yang entah apa namanya (Na belom tau) dan sebuah masjid.
Sebelah timur kampus, ada gedung dengan nama BAUK (Badan Administrasi dan Keuangan) , diikuti dengan rangkaian gedung yang memiliki nama sesuai abjad A sampai dengan F. Melihat dan merasakan suasana kampus membuat Na menggumam “Ah... Na jadi ingin secepatnya duduk di ruang kuliah!!!”
Dimana Na nanti menempuh ilmu ya?? Na bertanya dalam hati.
“Oh.. di gedung K lurus aja kearah utara, nanti ketemu pertigaan. Disanalah Fakultas Ilmu Sosial.” Kata seorang senior Na. “Senior yang baik.”
Begitulah kawan, Na diterima di kampus ini sesuai dengan jurusan yang diinginkannya, Geografi. Tak umum memang, di saat teman-temannya, memilih bidang ekonomi ataupun bahasa, Na memilih jurusan ini saat berkonsultasi dengan kakak pembimbing Bimbel.
Seperti diawal sudah diceritakan, Na tidak termasuk anak yang pintar untuk menghitung, telaten untuk duduk di laboratorium, ataupun rajin menghafal cerita masa lalu namun Na menyenangi makhluk hidup, Na suka belajar biologi, alami katanya. Maka Na memilih jurusan geografi yang memiliki kombinasi ilmu sosial dan science nya seimbang.
Di kampus Na, hampir semua lulusannya berprofesi sebagai pengajar karena kampus tersebut memang dibangun dengan tujuan menyediakan calon pengajar yang diharapkan nantinya dapat membangun masa depan pemimpin. “Building Feature Leaders”. Ini merupakan kalimat semboyan yang juga tertulis di dinding dekat teater terbuka, di bagian timur kampus.
“Hei kamu masuk geografi juga ya???” tanya seorang gadis yang memakai behel ketika melihat formulir yang sedang diisi oleh Na.
Na menjawab “iya, kalo kamu dimana?”
“Geografi juga. Kita daftar ulang bareng ya.”
Beginilah awal perkenalan Na dengan Gendis, gadis berbehel itu. Mereka cepat menjadi akrab karena terdapat banyak kesamaan antara keduanya. Na dan Didi-sapaan akrabnya Gendis- menyukai komik, memiliki kucing peliharaan serta mudah untuk menerima teman baru-easy going deh istilahnya.
Sebelum memulai perkuliahan, biasanya setiap kampus mengadakan masa orientasi. Inilah waktu yang biasa dimanfaatkan oleh senior untuk mengenalkan mahasiswa baru kepada suasana kampus. Termasuk tata letak kampus, sistem perkuliahan dan suasana diruang kuliah, tak lupa dosen-dosen yang akan mengajar kami nantinya.
Tak lebih repot jika dibandingkan dengan kampus lain, masa orientasi di kampus Na tergolong ramah dan sangat akademis. Para mahasiswa baru harus saling mengenal dengan mahasiswa baru lainnya. Na diminta untuk mengumpulkan tandatangan dari setiap orang yang ditemuinya. “Mudah saja” pikir Na. Ditambah dengan panitia masa orientasi, kata kakak panitia.
“Duh agak sulit yaaa, Na nerveous jika harus meminta sign nature dari para senior niyh... Didi bantuin Na yaa.”
“Tenang aja Na, bersama Didi pasti semua beres...”
Huft... Lega.


Di sudut lapangan itu, seorang cowok berkacamata yang sedang berkumpul bersama teman-temannya. Dia terlihat misterius karena cenderung pendiam dan memilih membaca buku. Sangat berbeda, disekitarnya terdengar suasana yang riang jika Na mendengar celotehan teman-temannya itu.
Na ingin punya banyak teman, maka Na harus kenalan sama cowok itu juga. Suatu hari nanti, pasti, harus. Entah kenapa Na sangat ingin mengenal cowok tersebut.


“Safiiinaaa...” Na melamun.
“Safina Oceaniz!!” seorang kakak panitia masa orientasi memanggil Na untuk absen.
“Lha kok malah bengong??”
“Kamu ke depan dekat papan tulis itu, perkenalkan diri kamu beserta asal sekolah kamu ya.” Kakak itu menambahkan.
“Safina Oceaniz, dari SMA Jakarta Raya.” Ucap Na sambil menebar senyum.
“Nama kamu unik.” Seseorang menyeletuk.
“Owh.. pantas aja lo mirip” kata seorang kakak senior berambut panjang bergaya meniru Vino G. Bastian, yang tubuhnya juga agak tinggi. Hm.. sepertinya Na pernah melihat kakak itu deh tapi dimana ya?? Apa maksud ucapannya ya?? Na enggak ngerti.


Saat itu Na dan teman satu angkatannya sedang menjalani masa orientasi lanjutan padai tingkat jurusan. Lokasi acaranya cukup jauh dari kampusnya, yaitu di Banten tepatnya Gunung Pulosari. Kakak senior dari angkatan sebelumnya ikut pula menjadi panitianya. Ada banyak dosen yang juga terlibat, mereka berpartisipasi untuk memberikan dasar pembelajaran bagi mahasiswa baru.
Didalam bis, Safina duduk bersebelahan dengan Nurul. Tak lama setelah bis bergerak menjauh dari kampus, ada seorang senior mengajak kami mengobrol.
“Hei Na, kamu dari sekolah mana sih?” tanya seorang senior.
“Dari Jakarta kak, di selatan.”
“Kayaknya tampang kamu itu udah ga asing lagi deh” lanjutnya.
“Hmm... Maksudnya apa kak?? Oh ya, nama kakak siapa ya??”
“Ai, lengkapnya Harianto, Geografi ’03.”
Kawan, ternyata kakak ini telah berada di kampus 2 tahun lebih awal dari Na. Kak Ai ini akhirnya terlibat pembicaraan yang cukup mengesankan. Aneh dan lucu, kata kak Ai di dalam kampus, di jurusan yang sama, Na memiliki kembaran. Lebih tepatnya tampang Na dinilai mirip dengan seseorang.
“Siapa kak? Na kok ga pernah melihatnya siyh??”
“Hm.. kembaran kamu itu cowok”
“Kembar? Cowok? Siapa ya? Nurul pernah lihat?” tanya Na kepada Nurul.
“Enggak pernah deh” jawab Nurul.
“Mungkin dia ga pernah muncul karena bukan panitia dalam masa orientasi kampus, jadi kalian belum pernah bertemu.” jawab kak Ai.
“Lang... oi.. Lang..” Sejurus kemudian, kak Ai memanggil seseorang yang sedang asyik ngobrol bersama senior lainnya, dia berdiri sambil mengenggam pegangan bis. Apa namanya si Bolang ya?? Tanya Na dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
“Langiii....t” jelas kak Ai. Ooooh, Kak Langit toh namanya. Saat cowok yang dimaksud Kak Ai menoleh sedikit, Na heran sekaligus terkejut. Ternyata pendapat kak Ai benar, Kak Langit memang sedikit mirip, bukan dengan Na, tepatnya lebih menyerupai wajah adik Na.
Dari jarak lima setengah meter, Langit mengernyitkan alisnya –terlihat juga oleh Na – sambil melengos mengacuhkan panggilan Kak Ai. Huh dasar sombong, pikir Na. Nurul pun setuju dengan penilaian Na.


bersambung....